Breaking News

Sang Inisiator

Pagi buta itu, bunyi kereta api memecahkan kesunyian Parakan. Sebentar lagi kereta segera berangkat. Penumpangnya sebagian besar adalah pedagang yang mau berdagang di Temanggung, adapula yang berjualan di Magelang. Sebagian kecil lainnya anak sekolah, ada yang SMP ada yang SMA.
 
Sekitar 30 menit kereta sampai di Temanggung. Beberapa pedagang turun, anak–anak SMP juga turun. Gerbong kereta menjadi tambah ramai karena banyak penumpang dari Temanggung yang akan ke Magelang. Diantara mereka ada pegawai dan pelajar SMA.
 
Rupanya pada masa itu tahun 1950-an, di Temanggung belum ada sekolah tingkat SMA. Bagi yang ingin meneruskan sekolah setamat SMP, mereka harus bersekolah di Magelang. Dan satu – satunya alat transportasi yang paling efisien adalah kereta api. Konsekuensinya, setiap pagi buta anak – anak sekolah itu harus sudah siap di stasiun.
  
Jauhnya sekolah tingkat SMA membuat sebagian warga Temanggung prihatin. Agar pendidikan di Temanggung maju, maka harus ada SMA. Dengan adanya SMA di Temanggung maka akan semakin banyak anak Temanggung yang bisa mengecap pendidikan sampai menengah atas, bukan Cuma mandeg di tingkat SMP.
    
Ia Adalah The Joe Gwan yang pertama kali secara eksplisit mengutarakan keprihatinan terhadap ketiadaan SMA di Temanggung. Dia merasa bahwa sebenarnya banyak lulusan SMP yang ingin melanjutkan sekolah sampai ke SMA, tetapi sebagian terbentur biaya. Maklum kalau mau melanjutkan ke SMA yang paling dekat ke Magelang.
   
Gwan pengusaha sekaligus pegawai Pabrik Rokok Gentong Gotri itu baru pulang sekolah dari Amerika pada 1957. Kebetulan saat ini dia menjadi ketua Perkumpulan Anak Muda Tionghoa Ching Hien Hui dan dengan bendahara Lie Kok Swan (Kuswanto). Dari perkumpulan kemudian diwujudkan gagasan mendirikan sekolah SMA.
   
Awal mula rembug di perkumpulan itu hanya akan mendirikan sekolah khusus untuk anak – anak Tionghoa. Tetapi kemudian gagasan berkembang saat pengurus perkumpulan bertemu dengan Soekarjo yang saat itu menjabat sebagai PDM (Perwira Daerah Militer) dan Drs. Soekarjo Subadi (Kepala Polisi Kabupaten Temanggung). Pertemuan itu mengubah gagasan yang semula agak sempit menjadi lebar. Gagasan yang semula hanya mendirikan sekolah khusus untuk anak Tionghoa menjadi sekolah untuk warga Temanggung. Selanjutnya itu gagasan tersebut disampaikan ke Bupati Temanggung saat itu, Raden Soedarso.
  
Akhirnya pada tahun 1958 dibentuklah Panitia Pembukaan Sekolah Pertikelir untuk SMA. Susunan panitianya, Ketua Drs. Sorkarjo Subadi (Kepala Polisi Kabupaten Temanggung), dengan anggota Raden Soedarso (Bupati Temanggung), Soekarjo (Komandan Kodim) dan The Joe Gwan (Pengusaha). Dan seksi usaha antara lain, Lie Kok Swan, Ting Tjong Tay, The Tong Hien, dan Hookim Sien.
   
Setelah panitia terbentuk, maka berulangkali diadakan rapat untuk mewujudkan sekolah itu. Saat itu yang menjadi bahasan utama adalah dimana sekolah itu akan didirikan. Kebetulan keluarga Lie Kok Swan memiliki tanah seluas 1600m2 didepan Kantor Polisi Kabupaten. Maka tanah itu dipinjamkan ke panitia untuk digunakan sebagai sekolah.
   
Pertama hanya dibangun tiga ruang kelas dengan bangunan yang sederhana dindingnya dari gedheg dan berlantai tanah. Itupun tidak mudah mengumpulkan dana, sebetulnya dana yang digunakan juga sebagian besar dari panitia. Gwan mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya pada sekolah itu.
   
Sosok The Joe Gwan, sang Inisiator pendidikan SMA pertama di Temanggung. Masa remaja Gwan yang lahir di Temanggung 25 Mei 1930, dilewatkan di Semarang, dimana saat itu Gwan sekolah di SMA Loyola. Selepas SMA, Gwan mendapatkan beasiswa dari pengusaha tembakau krosok PT. Mayong Sari untuk melanjutkan di Amerika.
   
Keenejikannya mengajak berbagai kalangan termasuk para pejabat untuk peduli dengan pendidikan dengan mendirikan SMA. Bukan hanya energi fisik saja yang yang diberikan, tetapi juga energi pikiran semua dicurahkan total. Itupun masih ditambah dengan sumbangan dana.
   
Gwan menjadi kepala sekolah pertama SMA yang tadinya bernama SMA Partikelir Sasangka Handardani. Saat itu sebutan jabatan bukan kepala sekolah melainkan direktur. Jabatan itu terus melekat ketika SMA tersebut berubah menjadi sekolah negeri setahun kemudian. Meski begitu, Gwan tetap menjadi Gwan yang dulu, ia tidak menjadi pegawai negeri, tetapi tetap menjadi pengusaha.
   
Sebagai direktur sebuah sekolah negeri, tentu saja dia digaji, tetapi gaji Gwan hampir tidak pernah diambil. Gaji yang ia terima dikembalikan ke sekolah untuk menambah biaya operasional. Bahkan tak jarang, ia merogoh kocek sendiri untuk menutupi kegiatan operasional sekolahan. Itu dilakukan karena sangking cintanya pada sekolah yang didirikan.
   
Gwan melepas jabatan sebagai direktur / kepala sekolah pada 1 September 1964. Selain untuk regenerasi, Gwan memang harus meninggalkan Temanggung karena sia harus memenuhi kewajiban ikatan dinas dari PT. Mayong Sari yang telah menyekolahkannya di Amerika. Dari Temanggung, Gwan hijrah ke Jember, Jawa Timur. Setelah pensiun dari perusahaan itu, Gwan tinggal di Surabaya dan wafat pada 1 Mei 2002.
   
SMA Negeri Temanggung sudah mulai berkembang. Setidaknya jumlah kelasnya sudah lengkap, dimana saat itu penamaannya adalah kelas A (Bahasa), kelas B (Paspal), dan kelas C (Sosial). Atas jasa besarnya dalam mendirikan dalam mendirikan SMA Negeri Temanggung itu Gwan mendapatkan penghargaan dari Presiden Soekarno.
   
Gwan telah mewariskan jiwa pendidikannya sehingga SMA Negeri Temanggung (sekarang SMA Negeri 1 Temanggung) telah menjadi salah satu SMA unggulan di tanah air .
Copyright © 2012. OSIS Citta Çundara Karya
Designed By | @smasaupdate